Wednesday, February 22, 2012

NIKOTIN DOSIS RENDAH, dan MANFAAT// anwar wardy”

Sindrom metabolik yang berkaitan dengan penyakit jantung koroner (PJK), diabetes melitus, dan hipertensi. Masalah utama pada penyakit jantung koroner adalah aterosklerosis koroner yang merupakan penyakit progresif yang terjadi secara bertahap berupa penebalan dinding arteri koroner. Aterosklerosis koroner dianggap sebagai proses pasif karena sebagian besar dihasilkan oleh kolesterol yang berada pada dinding arteri (Yuet Wai Kan, et al. 2000).
Ateroskelosis jantung koroner (atherogenetic process) adalah salah satu penyakit penting yang terkait dengan sindrom metabolik yang diidentifikasi oleh peningkatan indeks bobot badan (body mass index; BMI), lingkar pinggang atau rasio lingkar pinggang dan pinggul. Dalam sebuah studi prospektif diungkapkan bahwa obesitas tubuh bagian atas (obesitas abdominal) berhubungan lebih kuat dengan intoleransi glukosa/diabetes melitus, hiperinsulinemia, hipertensi, hipertrigliseridemia, dan gout dibandingkan obesitas.
Berbagai usaha pencegahan dan pengobatan terhadap beberapa penyakit terkait dengan sindrom metabolik telah banyak diketahui, baik menggunakan terapi obat-obatan kimiawi maupun obat-obatan yang berasal dari bahan alami. Nikotin adalah alkaloid yang secara alami ditemukan pada tumbuhan tembakau, termasuk famili Solanaceae dan genus Nicotiana. Nikotin adalah salah satu kandidat bahan alam yang perlu dipertimbangkan dalam mengatasi sindrom metabolik. Nikotin didalam berat kering tembakau terdapat sekitar 0,6-3,0%, dengan biosintesis berlangsung di akar, dan terakumulasi di daun. Pada masa lalu, nikotin berfungsi sebagai insektisida, dan pada saat ini lebih banyak diketahui pemakaian nikotin didalam rokok.
Kebanyakan rokok (dalam asap dihirup) mengandung 1 sampai 3 miligram nikotin. Pada konsentrasi rendah (rokok rata-rata menghasilkan sekitar 1 mg diserap nikotin), substansi bertindak sebagai stimulan yang merupakan faktor utama yang bertanggung jawab untuk membentuk ketergantungan terhadap rokok.
Dengan demikian dampak negatif nikotin lebih umum diketahui masyarakat dibandingkan dampak positif. Ketika rokok diisap, darah yang mengandung banyak nikotin melewati paru-paru dan masuk ke otak dalam waktu tujuh detik sehingga dapat merangsang pelepasan neurotransmitter asetilkolin, norepinefrin, epinefrin, vasopresin, arginin, dopamin, agen autokrin, dan beta-endorphin. Asetilkolin dapat meningkatkan konsentrasi dan memori, disamping asetillkolin bersama norepinefrin dapat meningkatkan kewaspadaan dan menjadi lebih agresif.
Nikotin juga memperpanjang durasi efek positif dari dopamin dan meningkatkan sensitivitas dalam respon balik otak. Pemakaian nikotin dalam bentuk lain seperti: sprayer, patch, tablet atau chewable belum banyak diketahui pada saat ini. Tembakau tanpa asap (smokless tabacco) mengandung rata-rata 3,6 mg nikotin dari 2,5 g tembakau sedotan dan 4,6 mg nikotin dari 7,9 g tembakau sugi (chewing tabacco). Penyerapan nikotin dalam bentuk tembakau kunyah (chewing tabacco) atau dalam bentuk alkalis melalui mukosa mulut berlangsung lambat, dan dalam waktu 30 menit kadar nikotin dalam darah (non-smoking) meningkat dan menetap, kemudian menurun setelah 2 jam jam lebih tergantung besarnya dosis. Sedangkan absorbsi nikotin dengan nicorette 4 mg (permen karet) juga berlangsung lambat. Dengan demikian nikotin dalam bentuk tembakau kunyah memiliki kadar nikotin dalam darah lebih rendah dibanding dengan cara penggunaan tembakau lain. Selain meningkatkan gairah yang merupakan dampak utama niktonin dari asetilkolin, nikotin juga menstimulasi pelepasan norepinefrin melalui signal ß3 adrenergik dalam sel mitokondria dan melalui mekanisme siklus CREB (cAMP response element binding). Mekanisme ini menyebabkan adanya ekspresi UCP-1 (uncoupling protein 1 ) pada BAT (brown adipose tissue) sehingga mempengaruhi thermogenesis yang terlibat proses metabolisme dan dapat meregulasi perubahan bobot badan (Cannon dan Nedergaard 2004; Brees et al. 2008).
Brown adipose tissue (BAT) merupakan penghangat yang penting karena memiliki jumlah mitokondria yang sangat banyak mengandung thermogenin protein 1 (uncoupling protein 1 atau UCP-1). Nedergaard et al. 2005 menyebutkan bahwa BAT adalah multilokular adiposit yang memiliki mitochondria yang banyak sebagai tempat penyimpanan dan mobilisasi lipid untuk terjadinya oksidasi asam lemak yang menghasilkan PGC-1a (PPARγ) dan UCP-1. Selain pada BAT, reseptor nikotin alkali terdapat dalam organ sekretori paracrine, dan dalam system saraf perifer khususnya neuromuscular junction yang berhubungan dengan otot yang mengandung transmiter protein catecholamine (dopamine, epinephrine and norepinethrine). UCP-1 melalui sirkuit pendek menghasilkan proton yang dapat meningkatkan CO2 dan memproduksi panas. Diketahui pula bahwa semua sel eukaria memiliki protein yang berhubungan dengan UCPs yang dianggap dapat mencegah PMF (proton motive force) sehingga mengurangi produksi reactive oxygen specific (ROS). Mengingat peranan nikotin alkali dalam penyerapan mukosa mulut dan reseptor utama jaringan lemak cokelat, maka penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kemiripan model monyet ekor panjang (MEP) sebagai hewan mamalia dewasa yang mirip dengan manusia usia muda, terutama pada bayi yang baru lahir yang memiliki jaringan lemak jenis BAT yang proses oksidasinya tidak untuk menghasilkan ATP melainkan untuk mengoksidasi asam lemak normal.
Pola makan dengan asupan tinggi lemak dapat menyebabkan terjadinya kelebihan berat badan (obesitas), hal ini memiliki kecendrungan untuk terjadinya sindrom metabolik dengan resiko tinggi terhadap beberapa penyakit seperti penyakit jantung koroner aterosklerosis. Sindrom metabolik diawali oleh akumulasi lemak berlebihan pada bagian-bagian tubuh tertentu, berlanjut menjadi peningkatan berat badan dan ganggguan pada gambaran profil lipid darah yang berupa terjadinya hiperlipoproteinemia yang mencakup hiperlipidemia, hiperkolesterolemia. Intervensi nikotin dosis rendah 0,75 mg/kg peroral diasumsikan dapat menangulangi masalah kelebihan berat dan memperbaiki profil lipid darah melalui mekanisme kerja pada jaringan lemak coklat.
Berkurangnya UCP-1 dalam sel-sel darah dan jaringan lainnya dapat diindikasikan mempercepat perkembangan plak aterosklerosis dengan menginduksi peningkatan jumlah makrofag dan mengurangi kolagen dalam jaringan tersebut. Peranan β3 guanine stimulasi (Gs) dan α2 guanine inhibisi yang berikatan dengan protein kinase berhubungan erat dengan cAMP dalam mitochondria yang menambah ekspresi UCP-1, kedua peranan Gs dan Gi juga berhubungan dengan GDP inaktif dan GTP aktif (guanine diphosphate/triphosphate) yang menghasilkan energi dari ATP. Penelitian ini memberi peluang intervensi nikotin dosis rendah pada MEP yang digunakan sebagai model untuk menemukan efek positif yang dimediasi receptor nicotinic acetylcholinedan ekspresi thermogenin mitochondria jaringan adiposa cokelat UCP-1 berkorelasi dengan kontrol profil lipid dan patofisiologi pembuluh darah yaitu produksi nitrat-oksida endotel, ROS dan prostasiklin faktor (Christopher Heeschen et al. 2001).
Nikotin juga dapat bersifat bahan psikoaktif dan sifat adiktif. Nikotin bertindak melalui reseptor nicotinic acetylcholine (nAChR) yang memediasi transmisi sinaptik secara cepat. Sel non-syaraf, termasuk endotel, juga mengungkapkan peranan nAChR. Villablanca menemukan bahwa nikotin menstimulasi proliferasi sel endotel-melalui nAChR. Selain itu, penelitian lain (Zhang et al. 2009) menunjukkan adanya peningkatan ekspresi endotel nitrat oksida sintase (eNOS) setelah distimulasi nikotin pada sel endotel arteri koroner manusia. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa nikotin dapat mendorong pelepasan faktor pertumbuhan fibroblast dasar (bFGF), prostasiklin dan endotelin dari sel endotel dan sel otot halus (SMCs). Sedangkan pada penelitian in-vitro secara konsisten ditemukan adanya efek pro-angiogenik dari nikotin; meningkatnya peran angiogenesis dalam menanggapi nikotin pada penelitian ini belum terbukti. Namun kenyataannya, ada laporan yang menunjukkan bahwa nikotin, atau merokok, dapat menyebabkan cideranya endotel dan dengan demikian mungkin dapat merusak angiogenesis. Dengan menggunakan berbagai model, untuk pertama kalinya bahwa nikotin merangsang angiogenesis dalam pengaturan peradangan, tumor, iskemia, dan aterosklerosis. Nikotin mendorong pertumbuhan plak aterosklerotik dan tumor setidaknya sebagian dengan merangsang angiogenesis. Namun demikian Nikotin secara patologis adalah agen angiogenesis.
Peranan Nikotin Dosis Rendah.
Para ahli neurosain memprediksi bahwa nikotin akan menjadi obat yang setiap hari dikonsumsi dan aman untuk ratusan juta orang pada abad kedepan nanti; seperti Alzheimer, Parkinson, demensia-strok, anxiety, depresi bahkan nyeri dan kegemukan serta dalam dosis tertentu merangsang nafsu-makan (appetizer). Induksi nikotin dalam dosis rendah terukur dapat menurunkan lesithin dan terjadi penurunan deposit kholesterol namun dosis yang tinggi dapat meningkatkan ikatan platelet-CO yang mengakibatkan terjadi hipoksia karena afinitas terhadap Hb juga meningkat. Namun disisi lain terjadi pelepasan nor-epineprin (NE) yang menginduksi PKA dan cREB-Protein serta menginduksi ekspresi protein 1 (UCP-1) melalui influks proton H.+(Cuming 2003; Nedergaard et al. 2003) Pada penelitian yang dilakukan oleh Teshima (2003), UCP-1 dapat memproteksi kardiomiosit dalam proses oksidatif serta mereduksi produksi reactif oxygen species (ROS) pada mitokondria. Hal ini memperlihatkan bahwa superoksida dapat meningkatkan konduksi proton mitokondria melalui efek ekspresi UCP-1. Pelepasan superosid yang membutuhkan asam lemak dihambat oleh produk nukleotida purin; hal ini mempunyai korelasi dengan ekspresi protein (UCPs) jaringan, dan nampak pada mitokondria yang mengekspresikan protein-1 (UCP-1). Oleh karena UCPs diekspresikan pada otot skeletal, maka ekspresi UCP-1 diharapkan eksis pada jaringan adipose yang ada.
Aktivasi UCP-1 melalui siklus esterifikasi lipolisis dari Na+,-K+,-ATPase adalah dasar dari termogenesis otot (nonshivering), dimana identifikasi ekspresi protein-1 termogenin menjawab rangsangan norepinephrine pada adiposit lemak cokelat.
Radikal bebas diperkirakan menjadi agen kausatif pada penyakit-penyakit yang terkait dengan usia meliputi penyakit autoimun, neurologis, kardiovaskular, kanker dan penuaan sendiri. Pada umumnya, metode diagnostik dan prognostik akan melibatkan pendeteksian elevasi UCP-1 pada sel-sel, jaringan-individu pada sampel dari penyebab suatu penyakit (McFarland et al. 2003).
Dosis nikotin sangat berperan, karena dengan batas aman (margin of safety;MOS) yang luas sampai dengan 60 mg/kg bobot badan baru dianggap toxik atau mematikan pada hewan penelitian. Maka pada penelitian ini, dosis nikotin yang rendah terukur 0,50-0,75 mg/kg bobot bdan akan dihubungkan dengan ekspresi LDL (low density lipoprotein) dan protein-1 (UCP-1) untuk melihat pengaruh nikotin pada pembuluh darah apakah memberikan hasil yang berguna dalam jangka waktu penggunaan. Diduga juga pengaruh sensitive nikotin pada jaringan adipose coklat (BAT, brown adipose tissue) adalah panas badan, status makan dan cadangan energi tubuh, yang berpusat pada area ventromedial nucleus hipotalamus (VMN) hindbrain.
Ekspresi UCP-1 dengan Risiko Aterogenesis
Pada pemberian nikotin, leptin akan meningkat dan mengaktifkan syaraf simpatik jaringan otot coklat dan diduga akan menurukan nafsu makan dan mengurangi bobot badan. Peran lipoprotein merupakan suatu kombinasi kompleks sferis dari lipid dan apoprotein yang juga berfungsi mengstabilisasi emulsi lipid serta berfungsi sebagai ligan untuk proses yang dapat dimediasi reseptor nikotin. Metabolisme lipoprotein melibatkan proses biokimia kompleks pembentukan berbagai sekresi, transpor, proses dan klirens lipoprotein tersebut. Apolipoprotein B (Apo B); adalah suatu glikoprotein yang besar yang berperan umum pada lipoprotein mamalia; dimana gen Apo B terletak pada chromosom 2 yang menghasilkan 2 bentuk Apo B yang beredar dalam darah; Apo B-48 dan Apo B-100 yang masing-masing memilik terminal amino di usus halus dan hepar. Proses mRNA dalam menera metabolisme lipoprotein; memungkinkan gen Apo B yang terkait secara struktur mempunyai fungsi yang berbeda. Apo B-48 diperlukan dalam produksi khilomikron, sedangkan Apo B-100 merupakan komponen struktur esensial dari VLDL (verylow density lipoprotein) dengan produk IDL dan LDL (intermediate dan low density lp)
Semua ApoB dikaitkan dengan lipoprotein dan kaitannya dengan perkembangan aterosklerosis. Dimana letak peran Nikotin dalam mekanisme ini, banyak peneliti belum menemukan jawabannya. (Fenster et al.1997)
Ekspresi co-reseptor peroksisom aktivator 1 PGC-1 BAT (PPARγ) selain UCP-1 melalui aktivasi reseptor 3-adrenergik dan peningkatan cAMP intraseluler menstimulasi produksi NO dalam jaringan adiposit cokelat.
Uncoupling Protein 1 (UCP-1)
Hasil penelitian ini memberikan bukti untuk disosiasi antara aktivitas mitokondria, transkripsi dan konten DNA mitokondria yang menunjukkan kompleksitas toksisitas mitokondria dan berdampak selular pada beberapa target organ. Pada penelitian lain, UCP-1 dilaporkan memainkan peran penting dalam homeostasis energi neonatus tikus dan mamalia yang lebih besar termasuk bayi manusia. Saat ini pada sejumlah penelitian menyebutkan kandidat gen yang dicari untuk menentukan faktor genetik yang terlibat dalam patogenesis obesitas yang berkaitan dengan gangguan metabolisme dan diabetes. UCP-1, yang memainkan peran utama dalam thermogenesis, diusulkan untuk menjadi salah satu kandidat penelitian dikemudian hari. Tinjauan ini meringkas data yang mendukung keberadaan jaringan cokelat adipocytes dan peran UCP1 dalam pelepasan energi pada manusia dewasa, dan keragaman genetis yang berkorelasi dengan metabolisme lemak pada obesitas dan diabetes.
Gambaran Umum.
Penggunaan nikotin yang diberikan pada pakan sebanyak dua kali sehari dengan dosis 0,75 mg/kg bobot badan/12 jam, merupakan dosis aman dalam penggunaan nikotin (Margin of Safety) untuk mengatasi obesitas. Hasil yang diperoleh setelah intervensi nikotin 0,75 mg/kg bobot badan/12 jam tersebut, menunjukkan adanya kecendrungan penurunan bobot badan selama 3 bulan penelitian, terutama untuk pakan yang diberi lemak hewan dan kuning telur. Pada kelompok yang diberi monkey chow, meskipun jumlah kalori yang diberikan hampir sama, namun kadar lemaknya lebih rendah, tidak menunjukkan penurunan bobot badan seperti pada kedua kelompok lainnya. Meskipun kecendrungan penurunan bobot badan itu ada, pada kelompok A dan B namun uji statistik pada ketiga jenis pakan tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Apa bila penelitian ini dilakukan dalam waktu lebih lama diperkirakan penurunan bobot badan akan lebih nyata. Hal ini didukung dengan indikasi yang ditunjukan MEP dalam kegiatan hariannya lebih aktif sehingga energi lebihnya digunakan untuk aktivitas tersebut.
Hasil penelitian profil lipid menunjukkan peningkatan HDL-kolesterol lebih tinggi, yang akan memperbaiki kualitas lemak tubuh MEP. Hasil analisis korelasi profil lipid menunjukkan adanya keeratan hubungan antara HDL-kolesterol, LDL-kolesterol, total kolesterol dan trigliserida. Pemberian pakan berenergi tinggi menghasilkan peningkatan trigliserida, kolesterol dan LDL, ketiganya berkorelasi positif tinggi, artinya peningkatan salah satu jenis lipoprotein tersebut akan diikuti dengan yang lain. Namun hal ini berbeda dengan HDL-kolesterol, peningkatan ketiga jenis lipoprotein diatas tidak diikuti dengan peningkatan HDL-kolesterol. Peningkatan aktvitas harian MEP merupakan faktor pendukung terjadinya peningkatan HDL-kolesterol. Nilai HDL-kolesterol inilah yang dapat dijadikan indikator perbaikan kualitas hidup masyarakat obesitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok MEP yang mendapat pakan B bersumber kuning telur menunjukan ekspresi UCP-1 yang lebih kuat dibandingkan dengan kelompok hewan lainnya. Hal ini dapat dijelaskan karena kuning telur mengandung phenylalanine dan thyroxine, keduanya yang merupakan prekursor dari neurotransmitter norepinefrin. Selain itu kuning telur mengandung choline, vitamin (A,B dan D) dan antioksidan (asam linoleat) berperan untuk fungsi otak dan ingatan.
Secara kimiawi nikotin bersifat alkali pH=8,5, tidak berwarna, mudah menguap (volatile base) jika terpapar dengan udara akan berwarna coklat dan berbau, dan daun tembakau memiliki kadar nikotin sekitar 1-2%/daun. Sifat tersebut diatas dengan memperhatikan proses metabolisme lemak di hati dengan peranan enzim Cyp2A6, maka olahan tembakau sebagai produk makanan menjadi pilihan masyarakat saat ini dan dimasa yang akan datang.
Tanaman tembakau yang mengandung nicotiana tabacum, yang ditanam dan daunnya digunakan untuk rokok, cerutu, pipa, atau dikunyah, juga digunakan sebagai tembakau bersama dengan bahan-bahan lain. Baru-baru ini, ada sejumlah upaya untuk memasarkan ekstrak tembakau dalam bentuk permen lolipop, balsem dan air mineral dalam botol melalui berbagai saluran distribusi produk yang berbeda, pada masyarakat luas. Hal ini menunjukkan sudah mulai berkembangnya penggunaan tembakau sebagai bahan tambahan makanan dalam bentuk yang lebih polpuler untuk masyarakat. Diharapkan dimasa datang lebih banyak lagi produk-produk makanan yang mengandung nikotin dalam dosis rendah yang dapat berfungsi untuk memperbaiki kesehatan manusia. Dengan demikian pandangan negarif tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok dan lainnya, dapat memberi pandangan baru bahwa nikotin dalam tembakau juga punya manfaat positif bagi kesehatan manusia.
Standar makanan di Indonesia saat ini tidak memberikan kepastian dalam penggunaan spesies daun Nicotiana tabacum (tembakau) dalam olahan makanan. Sampai saat ini, belum ada larangan bahwa tembakau tidak diizinkan secara tertulis maupun secara lisan di dalam makanan. Selama ini masyarakat tradisional telah menggunakan tembakau sebagai bahan untuk kelengkapan dalam kebudayaan masyarakat di Indonesia. Misalnya dibeberapa suku bangsa di Indonesia menggunakan tembakau kering maupun daun muda untuk kelengkapan makan sirih. Kebiasaan makan sirih merupakan adat istiadat tradisional yang masih dipelihara oleh masyarakat hingga kini. Hal ini perlu ada kejelasan dan ketegasan pemerintah dalam mengatur penggunaan tembakau sebagai bahan tambahan atau kelengkapan dalam makanan. Hasil penelitian ini dapat mendukung kebijakan pemerintah dalam penentuan status tanaman tembakau di Indonesia. Masalah tembakau di berbagai negara, ditunjukan dengan banyaknya pustaka ilmiah yang mendokumentasikan produksi hasl tembakau dengan subtrat protein sebagai obat-obatan, vaksin medicinals, enzim, polimer dan bahan makanan lainnya (www.foodstandards.govt.nz - www.foodstandards.gov.au, Oktober 2003). Hasil penelitian ini juga mendukung aspek postif tembakau sebagai produk makanan, yang diimbangi dengan profil kesehatan masyarakat, yang merasakan efek penggunaan tembakau sebagai produk makanan yang berguna lebih jauh lagi, pertimbangan lain juga diberikan untuk mengendalikan penggunaan produk tembakau di masyarakat oleh pemerintah, karena undang-undang tentang bahan yang berbahaya, narkotika dan zat adiktif lainnya. Oleh karena itu pada kesempatan ini disarankan agar spesies tembakau (Nicotiana Tabaccum) ditempatkan secara resmi sebagai produk herbal.
Dalam kaitanya dengan hasil penelitian ini, maka tanaman tembakau dalam penggunaan sebagai makanan dan zat yang diambil atau dikandung dari tanaman tembakau, dengan pendekatan penggunaan seluruh genus daripada spesies tunggal seperti Nicotiana tabacum dengan dosis yang ditentukan dapat mencegah dan menghindari standar yang melarang konsumsi tembakau sebagai produk masayarakat. Untuk mencegah nikotin dengan kadar yang tinggi pada tanaman yang mengandung bahan-bahan adiktif pada makanan yang digunakan, kita dapat memanfaatkan bahan tanaman terkait yang erat dengan genus dalam hibridisasi tanaman tembakau sebagai produk makanan dikemudian hari.
Produk yang berasal dari spesies nicotiana tabaccum yang digunakan dalam makanan dapat diatur dalam standar makanan (mudah-mudahan menjadi produk IPB yang terbaru), dengan pertimbangan keamanan dan keterkaitan dengan dosis nikotin dapat diatasi dengan mengidentifikasi nikotin sebagai bahan toksit pada tanaman tembakau dimasyarakat. Larangan nikotin dalam makanan tembakau mungkin sulit, karena umumnya pada masyarakat dapat menggunakan sebagai bahan sayuran yang dikonsumsi secara luas oleh keluarga seperti daun kentang, tomat dan terong (capsicums) serta paprika hijau yang diketahui mengandung kadar nikotin yang rendah. Termasuk nikotin dengan tingkatan kadar yang rendah dalam makanan, dapat digunakan untuk mengontrol penambahan pasokan signifikan secara fisiologis sesuai dengan hasil penelitian ini.
Dengan adanya pendekatan ini maka penelitian ini dapat memfasilitasi inovasi, dengan lebih mencegah peningkatan asupan nikotin dalam makanan pada masyarakat. Dengan demikian beberapa alasan penggunaan tembakau sebagai produk makanan harus mempertimbangkan bahwa nikotin saat ini sangat penting bukan karena kegunaannya sebagai obat atau makanan namun adanya kandungan dalam tembakau yang dirokok/diisap oleh masyarakat, dapat menimbulkan masalah kesehatan dan sosial lainnya.
Penelitian lanjutan tentang adanya pengaruh nikotin dosis rendah pada reseptor ACh-nicotine perifer dan ventromedialnucleus hypothalamus (VMN) yang memberikan efek penurunan bobot badan, dalam jangka waktu tertentu sebagai antiobesitas.
Kedepan dalam menempatkan tembakau sebagai bahan herbal yang bermanfaat bagi masyarakat, dan disarankan penggantian kampanye ‘No Tobacco Day’ menjadi ‘No Cigarette Day’, karena yang bermasalah bukan pada tembakau, tetapi pemanfaatan kandungan nikotin dalam tembakau.(a2w)

Anwar Wardy W 2012
Daftar Pustaka,...ada pada Penulis

Wednesday, February 8, 2012

HAKIM HUMANIORA,....Luput Pers....//

Bioethic and Humaniora,....//
Di ruang sidang pengadilan, Hakim Marzuki duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU thdp seorg nenek yg dituduh mencuri singkong.
Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, cucunya lapar. Namun manajer PT Andalas Kertas (Bakrie Grup) tetap pada tuntutannya, agar menjadi contoh bg warga lainnya.
Hakim Marzuki menghela nafas. Dia memutus diluar tuntutan jaksa PU. "Maafkan saya", ktnya sambil memandang nenek itu. "Saya tak dpt membuat pengecualian hukum. Hukum tetap hukum. Jd anda hrs dihukum.
Saya mendenda anda 1jt rupiah dan jika anda tdk mampu bayar maka anda hrs msk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU."
Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Smntr Hakim Marzuki mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang 1jt rupiah ke topi toganya, serta berkata kpd hadirin.
"Saya atas nama pengadilan, jg menjatuhkan denda kpd tiap org yg hadir di ruang sidang ini sebesar 50rb rupiah. Sebab menetap di kota ini & membiarkan seseorg kelaparan sampai hrs mencuri utk memberi mkn cucunya. Sdr panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kpd terdakwa."
Sampai palu diketuk dan Hakim Marzuki meninggaikan ruang sidang. Nenek itupun pergi dgn mengantongi uang 3,5jt rupiah, termsk uang 50rb yg dibayarkan oleh manajer PT andalas kertas yg tersipu malu krn telah menuntutnya. Sungguh sayang kisah ini luput dari pers.....//