Abstract.
Essentially, bioethics is the process of making moral decisions regarding health
care. The process of decision-making as well as the transmission of
those ethical decisions is an important matter of neurological study for the
health professional. Many controversies in the actual discussions on humanism
concern the lack of rigorous separation and ordered formulation of three
distinct elements: the definition of bioethic, the medical criterion
professionalism (anatomical substratum), and the tests to prove that the
criterion of humanism. In this paper I review the three brain-oriented
standards of bioethics according to these four distinct ethics-morale elements,
and will propose a new formulation of the basic medical-professional mechanisms
of generation in future medial-neurologist. For the example; two physiological
components control conscious behavior: arousal and awareness. We cannot simply
differentiate and locate arousal as a function of the ascending reticular
activating system, and awareness as a function of the cerebral cortex, that is
reality problem. Bioethics
is now an established practice with his own history, culture, and norm. Systematically, to grasp in
thought the essential aspects of medical practice, understand, aspiration, and
goals. Criticism
and constructive and alternative for improvement to neurologist organization is
needed.
The relation between
neurologist professionalism and patient is based on the concept of partnership
and collaborative effort…as decision are made through full discussion, in which
the doctor’s clinical expertise and the patient’s individual needs and
preferences are shared, to select the best treatment option.
How we respect individuals to make their own choices and develop their
own lives for the future strategy, we respect individuals their autonomy. Their
response to the doctor’s recommendation should reflect their own values for
their own lives. As a moral principle, respect for anatomy is a “two-way
street: : the autonomy of doctors to act only on their best judgment about how
best to benefit a patient medically, must also be respected.
Keyword: Bioethics, medical professional and autonomy.
Pendahuluan.
Etika merupakan bagian filsafat yang berhubungan dengan manusia menjadi orang yang baik, berbuat baik dan menginginkan hal yang baik dalam hidup. Etika adalah pedoman berbuat sesuatu dengan alasan tertentu, dan alasan tersebut sesuai dengan nilai tertentu dan pembenarannya. Etika dalam praktek dokter penting karena masyarakat selalu berubah, sehingga kita harus dapat memilih dan menyadari kemajemukan norma yang ada dalam masyarakat. Jadi etika juga adalah alasan untuk memilih nilai yang benar. Sedang bioetika adalah proses pengambilan keputusan moral dalam pelayanan medik dan kesehatan. Proses pengambilan keputusan dari keputusan medik yang etis merupakan hal penting dari studi professional para neurologi. Banyak kontroversi dalam diskusi aktual tentang humanisme dan kekhawatiran akan pemisahan yang ketat yang dirumuskan dalam tiga unsur berbeda: definisi bioethic, profesionalisme, dan kriteria medis (substratum anatomi) serta tes untuk membuktikan bahwa adanya kriteria humanisme.
Dalam
tulisan ini akan meninjau beberapa standar bioetika yang berorientasi pada
kerja otak menurut keempat unsur dasar etika-moral yang berbeda, dan mengusulkan
formulasi baru dari mekanisme pelayanan medis-profesional para spesialis saraf
dalam organisasi kita.
Bagaimana pentingnya emosi mendorong dan memiliki kemampuan
moral?
Hal
ini dapat dilihat dari pasien yang mengalami kerusakan ventromedial PFC, yang dapat mendeteksi implikasi dari situasi
sosial disekitarnya akan tetapi tidak dapat membuat keputusan yang tepat dalam
situasi kehidupan nyata.
Pasien ini tidak mampu menandai implikasi tersebut dengan tindakan yang menguntungkan atau merusak. (Damasio, Tranel & Damasio, 1990).
Pasien ini tidak mampu menandai implikasi tersebut dengan tindakan yang menguntungkan atau merusak. (Damasio, Tranel & Damasio, 1990).
Model ini dapat menjelaskan mengapa pasien
lesi prefrontal cortex masih dengan
jelas mengemukakan masalah sosial, tetapi gagal dalam setting naturalistik.
Bioetika merupakan pemikiran atau
refleksi atas moralitas. Dengan demikian tidak semua orang beretika atau jelasnya
tidak semua neurolog beretika; mereka adalah refleksi filosofis yang
sesungguhnya dan dimunculkan oleh para filsuf dan berlaku universal karena tak
memandang masyarakat tertentu saja. Bila Dokter melanggar janji datang tepat
waktu, ia tidak etis. Bila meracuni pasiennya, ia tidak bermoral, ini suatu
realita; sebagai contoh, dua komponen fisiologis yang
mengendalikan perilaku sadar,….. gairah/kesenangan dan kesadaran. Kita tidak bisa begitu saja membedakan dan
menemukan suatu kesenangan atau kebiasaan (habituation)
sebagai fungsi dari sistem yang mengaktifkan retikuler, dan/atau kesadaran
sebagai fungsi dari prefrontal korteks serebral.
Bioetika,…….
Neuroethics:
What is it? ‘’studi tentang etika dan pertanyaan-pertanyaan, tentang hukum dan
sosial yang muncul ketika penemuan dan riset ilmiah tentang otak
yang dilakukan dan ditemukan dalam praktek medis neurologi; serta interpretasi hukum dalam
praktek kedokteran dan kesehatan, juga kebijakan public dan sosial’
Marcus
D. (2002) Neuroethics: Mapping the field conference proceedings, May 13-14 2002,
San Francisco, California. New York: The Dana Press.
Sedang
bioetika adalah studi interdisipliner
tentang problem yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu
kedokteran, pada skala mikro maupun makro, termasuk dampaknya terhadap
masyarakat luas serta sistem nilainya, baik kini dan masa mendatang. Bioetika merupakan pandangan yang lebih luas
dari etika kedokteran karena begitu saling mempengaruhi antara manusia dan
lingkungan hidup. Bioetika merupakan ”genus”,
sedangkan etika kedokteran merupakan ”species” but,……..
“Neuroethics is more than just bioethics for the brain. [It] is the examination of how we want to
deal with the social issues of disease, normality, mortality, lifestyle, and
the philosophy of living informed by our understanding of underlying brain
mechanisms" "It is—or should be—an effort to come up with a
brain-based philosophy of life.” (Gazzaniga, M. S. (2005). The Ethical Brain. The Dana Press)
Unsur etika
1. Nilai :
-Pramoral,
belum merujuk pada suatu norma konkrit perilaku manusia; misalkan, kesehatan,
kehidupan, integritas fisik, seksualitas.
- Moral,
mengharuskan manusia melakukan dan merujuk kesesuatu tindakan konkrit pada
suatu norma konkrit; misalkan, kesetiaan yakni utk menepati janji, keadilan
yakni kesediaan menghargai hak orang lain.
2.
Norma = prinsip dasar.
- Proposisi
(“dalil”) pemindah nilai ke tingkat kehidupan konkrit, baik fungsi positif atau
negative,
- Ungkapan
teknis pengalaman etis manusia
- Generalisasi
relevan tentang apa yang secara normal relevan.
3. Moralitas, ciri khas manusia yang berkaitan
dengan kesadaran tentang baik dan buruk.
Keharusan moral adalah suatu kewajiban.
Oleh karena itu moral menjiwai produk hukum, dan moral diungkapkan dan
dilembagakan dalam masyarakat hukum,……namun keduanya dapat dibedakan;
HUKUM
|
MORAL
|
Dikodifikasi/ditulis
sistematis, relatif pasti dan objektif
|
Kebalikan dari hokum
|
Mengatur perilaku lahiriah
|
Mengatur perilaku batiniah
|
Sanksinya memaksa
|
Sanksi cenderung tdk
memaksa
|
Didasari pada kehendak
masyarakat atau negara
|
Didasarkan pada norma moral
yg melebihi individu/masyarakat dan negara.
|
Kaidah Dasar Moral (KDM); four distinct ethics-morale elements
Tindakan berbuat baik (beneficence)
secara umum melindungi &
mempertahankan hak yang lain dan mencegah terjadi kerugian pada yang lain, atau
menghilangkan kondisi penyebab kerugian yang lain. Secara khusus menolong orang cacat (tidak berdaya), atau menyelamatkan
orang dari bahaya. Berbuat baik adalah mengutamakan
kepentingan pasien dan memandang pasien, keluarga sebagai sesuatu yang tak
hanya sejauh menguntungkan dokter, rumah sakit atau pihak lain. Optimalnya akibat
perbuatan baik, termasuk jumlahnya lebih besar dari akibat-buruk. Jaminan nilai
utama beneficence; “apa saja yang ada, pantas atau indah adanya
bila kita bersikap baik terhadapnya” …apalagi ada yg hidup
Tindakan tidak
merugikan atau nonmaleficence; sisi komplementer beneficence dari sudut pandang pasien,
seperti; tidak boleh berbuat jahat (evil)
atau membuat derita (harm) pasien. Minimalisasi
akibat buruk dari kewajiban dokter untuk menganut komplemen ini berdasarkan; pasien
dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting. Dokter
sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut. Tindakan kedokteran ini terbukti
efektif dan bermanfaat lebih besar bagi pasien dibanding kerugian dokter yang
hanya mengalami risiko minimal; yaitu nilai/norma moral tunggal, dan isinya larangan.
Keadilan (Justice) memberi perlakuan sama untuk setiap orang dan adil sebagai
perbuatan fairness yakni; memberi
dukungan yang relatif sama terhadap kebahagiaan dan diukur dari kebutuhan
mereka; kesamaan dukungan sesuai kebutuhan pasien yang memerlukan dan dapat
membahagiakannya. Menuntut pengorbanan dokter yang relatif sama, diukur dengan
kemampuan mereka; kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien.
Optimalisasinya adalah menjamin nilai tak terhingga setiap pasien sebagai mahluk
berakal budi (beradab dan bermartabat),
khususnya yang berhak dan yang baik.
Jenis keadilan bisa berupa perbandingan antar kebutuhan
penerima (comparative) membagi sumber
(distributive),…kebajikan membagikan
sumber-sumber kenikmatan dan beban bersama, dengan cara yang merata, sesuai
keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmani-rohani; secara material kepada
setiap orang, sesuai kebutuhan, upaya, jasa dan kontribusi terhadap sikap
dokter dalam memberikan pelayanan.
Autonomi (self-determination), sangat erat terkait dengan doktrin informed-consent, kompetensi neurology
juga termasuk untuk kepentingan peradilan, penggunaan teknologi baru, dan dampak
yang dimaksudkan (intended) atau
dampak tak laik-tayang (fluoreseen
effects), nilai kebenaran neurology-proffesional
yakni pengakuan adanya Tuhan yang berperan dalam
prakteknya dan perintah menjalankan etik kedokteran adalah “perintah Tuhan”
/habbluminnAllah, dan adanya
kebebasan kehendakNya.
‘Moral Sensitivity’
Konsisten dengan hypothesis diatas adalah jaringan kerja
otak yang melibatkan aPFC (anterior
prefrontal cortex), aOFC (anterior ocular frontal cortex), STS (superior temporal sulcus) dan
system limbic yang merepresentasikan hasil hubungan social-emotional dengan ‘moral
sensitivity’ An automatic tagging of
ordinary social events with moral value.
Gambar. 2. Processing
in Moral Judgment,… has A Cognitive Basis.
Derajat Ketegaran KDM.
KDM dapat
merupakan suatu hal tersendiri, namun
dapat saling bertukar sehingga dapat pula merupakan suatu kesinambungan. Ketegaran
tersebut bergantung pada legalisme (prinsip moral) dan tergantung pada hokum
dan nilai utama lainnya.
Absolut prima facie adalah prinsip yang harus
dipatuhi, namun dapat bertukar sejauh ada kepentingannya seperti prinsip lain
yang lebih kuat atau ada alasan kuat untuk pengecualiannya. Sedang relative antinomianisme adalah prinsip
moral yang tidak tergantung pada hokum dan nilai utama lainnya.
Kaidah dasar moral Neurolog adalah menjalankan hak azasi
manusia yang menjadi objek pelayanan neurologi, dimana praktik etika dan moral
yang baik adalah praktik yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan,
kompeten, berwenang dengan sikap yang professional. Patuh pada disiplin
profesi, karena kepatuhan kepada profesionalisme akan mencegah malpraktik.
Kesimpulan
Bagaimana para neurolog menghormati individu untuk membuat pilihan
mereka sendiri dan mengembangkan kehidupan mereka sendiri untuk strategi masa
depan, dimana dokter harus menghormati individu dengan otonomi mereka; respon
mereka untuk merekomendasi keputusan dokter dan harus mencerminkan nilai-nilai
mereka sendiri. Prinsip dasar moral, adalah penghormatan terhadap autonomi
"dua arah’ Dual-Process Theory Of Moral
Judgment otonomi dokter untuk bertindak hanya
pada penilaian terbaik mereka tentang cara dan manfaat medis pasien, dan harus
dihormati; diantara
personal dan impersonal dilemma moral.
Bahan Bacaan:
· Adolphs, R., Tranel, D.,
Damasio, H., & Damasio, A. R. (1994). Impaired recognition of emo- tion in
facial expressions following bilateral damage to the human amygdala. Nature, 372, 669–672.
· Adolphs, R., Gosselin, F.,
Buchanan, T. W., Tranel, D., Schyns, P., & Damasio A. R. (2005). A
mechanism for impaired fear recognition after amygdala damage. Nature, 433, 68–72.
· AriĆ«ns Kappers, C. U., Huber,
C. G., & Crosby, E. C. (1936). Comparative
anatomy of the nervous system of vertebrates, including man. New York:
Macmillan.
· Berthoz, S., Armony, J. L.,
Blair, R. J. R., & Dolan, R. J. (2002). An fMRI study of intentional and
unintentional (embarrassing) violations of social norms. Brain, 125(8), 1696–1708.
· Greene, J. D. et al. (2001) An fMRI investigation of emotional
engagement in moral judgment. Science 293, 2105–2108.
· Greene, J. D., et al. (2004). The neural bases of cognitive conflict
and control in moral judgment. Neuron 44, 389–400.
· Koenigs M et al. (2007) Nature, 446, 908-911.
· Moll, J., et al. (2002) Functional networks in emotional moral and
nonmoral social judgments. Neuroimage 16, 696–703.

