Monday, December 1, 2014

STRATEGY CONCERNING THE BIOETHICAL AND PROFESSIONAL ASPECT ON NEUROLOGY Anwar Wardy Warongan, MD, DFM*

Abstract.

      Essentially, bioethics is the process of making moral decisions regarding health care. The process of decision-making as well as the transmission of those ethical decisions is an important matter of neurological study for the health professional. Many controversies in the actual discussions on humanism concern the lack of rigorous separation and ordered formulation of three distinct elements: the definition of bioethic, the medical criterion professionalism (anatomical substratum), and the tests to prove that the criterion of humanism. In this paper I review the three brain-oriented standards of bioethics according to these four distinct ethics-morale elements, and will propose a new formulation of the basic medical-professional mechanisms of generation in future medial-neurologist. For the example; two physiological components control conscious behavior: arousal and awareness. We cannot simply differentiate and locate arousal as a function of the ascending reticular activating system, and awareness as a function of the cerebral cortex, that is reality problem. Bioethics is now an established practice with his own history, culture, and norm. Systematically, to grasp in thought the essential aspects of medical practice, understand, aspiration, and goals. Criticism and constructive and alternative for improvement to neurologist organization is needed.
     The relation between neurologist professionalism and patient is based on the concept of partnership and collaborative effort…as decision are made through full discussion, in which the doctor’s clinical expertise and the patient’s individual needs and preferences are shared, to select the best treatment option.
How we respect individuals to make their own choices and develop their own lives for the future strategy, we respect individuals their autonomy. Their response to the doctor’s recommendation should reflect their own values for their own lives. As a moral principle, respect for anatomy is a “two-way street: : the autonomy of doctors to act only on their best judgment about how best to benefit a patient medically, must also be respected.
Keyword: Bioethics, medical professional and autonomy.
Pendahuluan.
       Etika merupakan bagian filsafat yang berhubungan dengan manusia menjadi orang yang baik, berbuat baik dan menginginkan hal yang baik dalam hidup. Etika adalah pedoman berbuat sesuatu dengan alasan tertentu, dan alasan tersebut sesuai dengan nilai tertentu dan pembenarannya. Etika dalam praktek dokter penting karena masyarakat selalu berubah, sehingga kita harus dapat memilih dan menyadari kemajemukan norma yang ada dalam masyarakat. Jadi etika juga  adalah alasan untuk memilih nilai yang benar. Sedang bioetika adalah proses pengambilan keputusan moral dalam pelayanan medik dan kesehatan. Proses pengambilan keputusan dari keputusan medik yang etis merupakan hal penting dari studi professional para neurologi. Banyak kontroversi dalam diskusi aktual tentang humanisme dan kekhawatiran akan pemisahan yang ketat yang dirumuskan dalam tiga unsur berbeda: definisi bioethic, profesionalisme, dan kriteria medis (substratum anatomi) serta tes untuk membuktikan bahwa adanya kriteria humanisme. 
       Dalam tulisan ini akan meninjau beberapa standar bioetika yang berorientasi pada kerja otak menurut keempat unsur dasar etika-moral yang berbeda, dan mengusulkan formulasi baru dari mekanisme pelayanan medis-profesional para spesialis saraf dalam organisasi kita.
Bagaimana pentingnya emosi mendorong dan memiliki kemampuan moral?
Hal ini dapat dilihat dari pasien yang mengalami kerusakan ventromedial PFC, yang dapat mendeteksi implikasi dari situasi sosial disekitarnya akan tetapi tidak dapat membuat keputusan yang tepat dalam situasi kehidupan nyata.
      Pasien ini tidak mampu menandai implikasi tersebut dengan tindakan yang menguntungkan atau merusak.
(Damasio, Tranel & Damasio, 1990).
Model ini dapat menjelaskan mengapa pasien lesi prefrontal cortex masih dengan jelas mengemukakan masalah sosial, tetapi gagal dalam setting naturalistik. 
       Bioetika merupakan pemikiran atau refleksi atas moralitas. Dengan demikian tidak semua orang beretika atau jelasnya tidak semua neurolog beretika; mereka adalah refleksi filosofis yang sesungguhnya dan dimunculkan oleh para filsuf dan berlaku universal karena tak memandang masyarakat tertentu saja. Bila Dokter melanggar janji datang tepat waktu, ia tidak etis. Bila meracuni pasiennya, ia tidak bermoral, ini suatu realita; sebagai contoh, dua komponen fisiologis yang mengendalikan perilaku sadar,….. gairah/kesenangan dan kesadaran.  Kita tidak bisa begitu saja membedakan dan menemukan suatu kesenangan atau kebiasaan (habituation) sebagai fungsi dari sistem yang mengaktifkan retikuler, dan/atau kesadaran sebagai fungsi dari prefrontal korteks serebral.

Bioetika,……. 
      Neuroethics:  What is it? ’studi tentang etika dan pertanyaan-pertanyaan, tentang hukum dan sosial yang muncul ketika penemuan dan riset ilmiah tentang otak yang dilakukan dan ditemukan dalam praktek medis neurologi; serta interpretasi hukum dalam praktek kedokteran dan kesehatan, juga kebijakan public dan sosial’
Marcus D. (2002) Neuroethics: Mapping the field conference proceedings, May 13-14 2002, San Francisco, California. New York: The Dana Press.
       Sedang bioetika adalah studi interdisipliner tentang problem yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran, pada skala mikro maupun makro, termasuk dampaknya terhadap masyarakat luas serta sistem nilainya, baik kini dan masa mendatang.   Bioetika merupakan pandangan yang lebih luas dari etika kedokteran karena begitu saling mempengaruhi antara manusia dan lingkungan hidup. Bioetika merupakan ”genus”, sedangkan etika kedokteran merupakan ”species  but,……..
“Neuroethics is more than just bioethics for the brain.  [It] is the examination of how we want to deal with the social issues of disease, normality, mortality, lifestyle, and the philosophy of living informed by our understanding of underlying brain mechanisms" "It is—or should be—an effort to come up with a brain-based philosophy of life.” (Gazzaniga, M. S. (2005). The Ethical Brain. The Dana Press)

Unsur etika
1.     Nilai :
   -Pramoral, belum merujuk pada suatu norma konkrit perilaku manusia; misalkan, kesehatan, kehidupan, integritas fisik, seksualitas.
  - Moral, mengharuskan manusia melakukan dan merujuk kesesuatu tindakan konkrit pada suatu norma konkrit; misalkan, kesetiaan yakni utk menepati janji, keadilan yakni kesediaan menghargai hak orang lain.
2.     Norma = prinsip dasar.
  - Proposisi (“dalil”) pemindah nilai ke tingkat kehidupan konkrit, baik fungsi positif atau negative,
  - Ungkapan teknis pengalaman etis manusia
  - Generalisasi relevan tentang apa yang secara normal relevan.
 3.  Moralitas, ciri khas manusia yang berkaitan dengan kesadaran tentang baik dan buruk.  Keharusan moral adalah suatu kewajiban.  Oleh karena itu moral menjiwai produk hukum, dan moral diungkapkan dan dilembagakan dalam masyarakat hukum,……namun keduanya dapat dibedakan;
HUKUM
MORAL
Dikodifikasi/ditulis sistematis, relatif pasti dan objektif
Kebalikan dari hokum
Mengatur perilaku lahiriah
Mengatur perilaku batiniah
Sanksinya memaksa
Sanksi cenderung tdk memaksa
Didasari pada kehendak masyarakat atau negara
Didasarkan pada norma moral yg melebihi individu/masyarakat dan negara.


Kaidah Dasar Moral (KDM); four distinct ethics-morale elements
    

Tindakan berbuat baik (beneficence) secara umum melindungi & mempertahankan hak yang lain dan mencegah terjadi kerugian pada yang lain, atau menghilangkan kondisi penyebab kerugian yang lain. Secara khusus menolong orang cacat (tidak berdaya), atau menyelamatkan orang dari bahaya.  Berbuat baik adalah mengutamakan kepentingan pasien dan memandang pasien, keluarga sebagai sesuatu yang tak hanya sejauh menguntungkan dokter, rumah sakit atau pihak lain. Optimalnya akibat perbuatan baik,  termasuk jumlahnya  lebih besar dari akibat-buruk. Jaminan nilai utama beneficence;  “apa saja yang ada, pantas atau indah adanya bila kita bersikap baik terhadapnya” …apalagi ada yg hidup
Tindakan tidak merugikan atau nonmaleficence; sisi komplementer beneficence dari sudut pandang pasien, seperti; tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien. Minimalisasi akibat buruk dari kewajiban dokter untuk menganut komplemen ini berdasarkan; pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting. Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut. Tindakan kedokteran ini terbukti efektif dan bermanfaat lebih besar bagi pasien dibanding kerugian dokter yang hanya mengalami risiko minimal; yaitu nilai/norma moral tunggal, dan  isinya larangan.
Keadilan (Justice) memberi perlakuan sama untuk setiap orang dan adil sebagai perbuatan fairness yakni; memberi dukungan yang relatif sama terhadap kebahagiaan dan diukur dari kebutuhan mereka; kesamaan dukungan sesuai kebutuhan pasien yang memerlukan dan dapat membahagiakannya. Menuntut pengorbanan dokter yang relatif sama, diukur dengan kemampuan mereka; kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien. Optimalisasinya adalah menjamin nilai tak terhingga setiap pasien sebagai mahluk berakal budi (beradab dan bermartabat), khususnya yang berhak dan yang baik.
Jenis keadilan bisa berupa perbandingan antar kebutuhan penerima (comparative) membagi sumber (distributive),…kebajikan membagikan sumber-sumber kenikmatan dan beban bersama, dengan cara yang merata, sesuai keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmani-rohani; secara material kepada setiap orang, sesuai kebutuhan, upaya, jasa dan kontribusi terhadap sikap dokter dalam memberikan pelayanan.
Autonomi (self-determination), sangat erat terkait dengan doktrin informed-consent, kompetensi neurology juga termasuk untuk kepentingan peradilan, penggunaan teknologi baru, dan dampak yang dimaksudkan (intended) atau dampak tak laik-tayang (fluoreseen effects), nilai kebenaran neurology-proffesional yakni pengakuan  adanya Tuhan yang berperan dalam prakteknya dan perintah menjalankan etik kedokteran adalah “perintah Tuhan” /habbluminnAllah, dan adanya kebebasan kehendakNya.

‘Moral Sensitivity’
Konsisten dengan hypothesis diatas adalah jaringan kerja otak yang melibatkan aPFC (anterior prefrontal cortex), aOFC (anterior ocular frontal cortex), STS (superior temporal sulcus) dan system limbic yang merepresentasikan hasil hubungan social-emotional  dengan ‘moral sensitivity’  An automatic tagging of ordinary social events with moral value.


  Gambar. 2. Processing in Moral Judgment,… has A Cognitive Basis.
Derajat Ketegaran KDM.
      KDM dapat merupakan suatu hal tersendiri,  namun dapat saling bertukar sehingga dapat pula merupakan suatu kesinambungan. Ketegaran tersebut bergantung pada legalisme (prinsip moral) dan tergantung pada hokum dan nilai utama lainnya.
Absolut prima facie adalah prinsip yang harus dipatuhi, namun dapat bertukar sejauh ada kepentingannya seperti prinsip lain yang lebih kuat atau ada alasan kuat untuk pengecualiannya. Sedang relative antinomianisme adalah prinsip moral yang tidak tergantung pada hokum dan nilai utama lainnya.
Kaidah dasar moral Neurolog adalah menjalankan hak azasi manusia yang menjadi objek pelayanan neurologi, dimana praktik etika dan moral yang baik adalah praktik yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan, kompeten, berwenang dengan sikap yang professional. Patuh pada disiplin profesi, karena kepatuhan kepada profesionalisme akan mencegah malpraktik.

Kesimpulan
      Bagaimana para neurolog menghormati individu untuk membuat pilihan mereka sendiri dan mengembangkan kehidupan mereka sendiri untuk strategi masa depan, dimana dokter harus menghormati individu dengan otonomi mereka; respon mereka untuk merekomendasi keputusan dokter dan harus mencerminkan nilai-nilai mereka sendiri. Prinsip dasar moral, adalah penghormatan terhadap autonomi "dua arah’ Dual-Process Theory Of Moral Judgment otonomi dokter untuk bertindak hanya pada penilaian terbaik mereka tentang cara dan manfaat medis pasien, dan harus dihormati; diantara personal dan impersonal dilemma moral.

Bahan Bacaan:
·     Adolphs, R., Tranel, D., Damasio, H., & Damasio, A. R. (1994). Impaired recognition of emo- tion in facial expressions following bilateral damage to the human amygdala. Nature, 372, 669–672.
·     Adolphs, R., Gosselin, F., Buchanan, T. W., Tranel, D., Schyns, P., & Damasio A. R. (2005). A mechanism for impaired fear recognition after amygdala damage. Nature, 433, 68–72.
·     AriĆ«ns Kappers, C. U., Huber, C. G., & Crosby, E. C. (1936). Comparative anatomy of the nervous system of vertebrates, including man. New York: Macmillan.
·     Berthoz, S., Armony, J. L., Blair, R. J. R., & Dolan, R. J. (2002). An fMRI study of intentional and unintentional (embarrassing) violations of social norms. Brain, 125(8), 1696–1708.
·     Greene, J. D. et al. (2001) An fMRI investigation of emotional engagement in moral judgment. Science 293, 2105–2108.
·     Greene, J. D., et al. (2004). The neural bases of cognitive conflict and control in moral judgment. Neuron 44, 389–400.
·     Koenigs M et al. (2007) Nature, 446, 908-911.
·     Moll, J., et al. (2002) Functional networks in emotional moral and nonmoral social judgments. Neuroimage 16, 696–703.